Gerakan mahasiswa
sebagai bentuk kolaborasi antara pendidikan formal dengan mencoba menjawab
tantangan social yang mana membutuhkan tanggapan reaktif atas masalah yang
dihadapinya ini menjadikan mahasiswa sebagai subjek dalam posisinya sebagai
generasi bakal penerus bangsa yang proaktif. Gerakan – gerakan yang dilakukan
ini adalah sebuah gerakan yang berasal dari realita kehidupan masyarakat yang
sekarang ini semakin terdemokratisasi oleh pola perubahan zaman. Sehingga
bentuk – bentuk gerakan yang dilakukan adalah gerakan atas cerminan timbal
balik dari system dan atau kebijakan yang disodorkan oleh punggawa penguasa
politik negara.
Zaman sudah membuktikan bahwa dalam perjalanan kehidupan
negara ini tidak terlepaskan dari peran serta aktif dari mahasiswa yang mana
mahasiswa menjadi penyeimbang atas dinamisasi kehidupan politik negara. Peran
ini adalah seolah – olah menjadi jiwa dari kehidupan mahasiswa kita, mahasiswa
yang selalu gamang dan selalu resah atas setiap keganjalan – keganjalan yang
timbul sehingga memposisikan dirinya sebagai garda terdepan dari gerakan
antisipatif dalam kaitannya agar system selalu berjalan sesuai dengan polanya.
Pola yang mana sudah digariskan oleh UUD 1945 yang merupakan wujud janji bangsa
Indonesia untuk menjadikan negara ini negara yang melindungi, menjamin
kesejahteraan bangsa dan aktif dalam peradaban dunia.
Perubahan social dan ilmu pengetahuan serta teknologi menyebabkan
pola gerakan mahasiswa mengalami pergeseran dari segi aksi yang mana dahulu
gerakan mahasiswa identic dengan gerakan jalanan namun dewasa ini nampaknya
gerakan seperti itu sudah sedikit menuntut adanya pola baru. Gerakan mahasiswa
harus memperhatikan kehidupan social masyarakat sekarang yang mana sudah jauh
berbeda, masyarakat sekarang sudah lebih cerdas untuk menilai dan menentukan
pendapatnya sehingga pengaruh dari adanya gerakan mahasiswa ini perlahan mulai
luntur dari warna kehidupan politis masyarakat kita. Hal ini menuntut adanya
reformasi gerakan mahasiswa mulai dari bentuk aksi serta pola alur advokasi
problema politis.
Lembaga eksekutif mahasiswa dalam kerja menunaikan
tugasnya disyaratkan agar mampu mengadvokasikan setiap permasalahan ataupun isu
strategis melalui pola – pola gerakan strategis dan inspiratif. Pola gerakan
inspiratif diperlukan untuk menarik antusiasme warga Universitas Jenderal
Soedirman atau pun masyarakat pada umumnya yang mana saat ini sudah terkesan
begitu pasif dan tak mau tahu dengan gerakan yang dilakukan mahasiswa. Padahal
pada dasarnya gerakan yang dilakukan oleh eksekutif mahasiswa merupakan
interpretasi dari problematika yang terjadi di masyarakat. Hal ini tentunya
menjadi pekerjaan penting dari lembaga eksekutif mahasiswa untuk bekerja
produktif dan inovatif dengan pola – pola baru agar bisa mengembalikan
kepercayaan masyarakat.
Advokasi mahasiswa dalam hal untuk revitalisasi atau pun
pembenahan system dilakukan secara kontinu dan diusahakan agar mampu mencakup
seluruh lapisan masyarakat yang mana perlu untuk di advokasikan. Agar bisa
mengayomi kepentingan dari masyarakat baik itu masyarakat kampus atau pun
masyarakat pada umumnya diperlukan pola gerakan yang sensitive. Ini bisa
dilakukan dengan cara jemput bola jadi tidak hanya menunggu tetapi lembaga juga
aktif mencari problematika yang terjadi di lapangan akan lebih banyak yang
terjaring dan jika dibutuhkan tindakan advokasi atau pun penanganan lain akan
lebih luas cakupannya.
Dalam konteks sumberdaya mahasiswa adalah agen perubahan
bangsa dan generasi yang akan meneruskan kelangsungan berbangsa, maka dari itu
untuk menyambut tugas besar mahasiswa perlu kita siapkan modal agar ke depannya
nanti ketika telah sampai pada waktunya bangsa ini sudah mempunyai orang –
orang yang siap terjun langsung ke lapangan dalam menghadapi setiap
permasalahan yang muncul. Untuk mempersiapkan hal ini diperlukan rangsangan –
rangsangan agar mahasiswa terbiasa mengenal akan tugasnya tersebut. Melalui hal
– hal yang inspiratif dengan dasar pembelajaran melalui penangkapan dinamisasi
social di masyarakat hal ini akan bisa mengasah kemampuan mahasiswa untuk
berkembang. Lembaga mahasiswa harus menyadari hal tersebut sehingga kontribusi
dari gerakan ini akan bisa tertanam dalam diri mahasiswa.
Oleh:
Fajar Arif Saputro
Fakultas Sains dan
Teknik/ Teknik Sipil
Universitas Jenderal Soedirman